hatter,
I miss all those walks we took,
the long journeys
with bonfires
and fireflies
and stars
and strange mushrooms,
of conversations with the roses
and the clouds
and the fly-horses,
of days staring into the sky,
the thirteen-colored rainbow
shooting so high,
hatter,
are our roads still there?
overgrown and muddy,
but can we track it down?
now I'd like to go somewhere
I'd like to find the way,
write it down and send them to you,
in letters with envelopes
the color of the earth, and grasses, and skies
but I can't find the roads,
there are old maps
I have to decipher,
and for that, strange languages
I have to learn,
hatter,
where are you now?
did you find what you wanted?
now that I know what I want,
I am more clueless than ever
hatter.
I miss being lost
Welcome to Wonderland!
A compilation of wonders where things might be found upside down. Feel free to do and say anything out of the ordinary. Wish you a safe journey back into reality after reading all these.
Tampilkan postingan dengan label puzzles. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puzzles. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Oktober 2019
lamps in the daylight
But you don't belong here, my dear
Perhaps we ought to rush into the night
Banish the darkness they all fear
Kamis, 26 September 2019
keraguan
Entahlah, mungkin karena aku merasa nggak ada yang mbaca blog ini. Rasanya pingin coba mempublikasikan hal-hal dalam pikiran, entahlah, mungkin ada orang asing nggak jelas yang tiba-tiba randomly membaca, aku nggak peduli, haha.
Sebenarnya blog ini merekam dengan cukup baik perkembangan pikiran dan pergolakanku, sejak jaman alay sampe sekarang. Tentu saja, semua itu di luar ranah privat. Dengan membaca blog ini mungkin kamu nggak akan menemukan cerita dengan nama. Namun tetap ada esensinya.
Mungkin juga cuma aku yang paham sebenernya, tapi ya persetanlah!
Selain blog ini aku menuangkan pikiran ke begitu banyak tempat. Buku kecil dengan kalimat satu baris, gambar-gambar, percakapan-percakapan, dan tentu saja jurnalku. Rasanya ingin selalu meminta maaf, akhir-akhir ini, karena pikiran yang kelewat aktif, kelewat anarkis. Ketika hal-hal yang dibendung akhirnya dilepaskan, aku pun megap-megap dan hampir tenggelam.
Dan akhir-akhir ini aku mulai menelusuri keyakinanku. Aku tumbuh di lingkungan yang begitu kacau, dimana tak ada orang yang dapat kuandalkan, maupun nilai turunan yang dapat kupegang erat. Bagaimana bisa? Pandangan orang-orang selalu berseberangan, dan tak jarang aku melihat mereka yang hanya memegang prinsip umum di bibir saja. Di hidup ini pilihannya hanya satu, bukan : Buatlah prinsipmu sendiri.
Jadi, ya itu yang kulakukan.
Aku biasa mendengarkan dengan netral, lalu memikirkan dan menyambungkan segala sesuatunya, memastikan bahwa itu benar. Kalau tidak, aku akan melupakannya. Nurut sih nurut, tapi pelan namun pasti aku mengembangkan pribadi yang keras kepala. Semua hal yang ada di dalam diri ini adalah hal-hal yang kupegang erat-erat, janji-janji yang kubuat dengan diri sendiri. Termasuk masalah agama dan moralitas.
Sialnya dengan selalu membuka pikiran adalah, kadang kamu bingung, dengan mana yang benar. Aku ingin percaya dengan seluruhnya, aku ingin beriman sepenuhnya. Untuk apa kita percaya namun setengah-setengah saja? Dan aku hanya akan percaya pada hal yang telah kutimbang baik-baik, yang dapat kupastikan kebenarannya dalam taraf tertentu. Aku stuck, diantara liberal dan konservativist--terlalu longgar bagi hamba taat, terlalu banyak bertanya. Namun juga terlalu kaku bagi sebagian yang lainnya, sok menjadi baik dan mengkhianati hasrat diri.
Tidak semua orang berpikiran sama, dan pada dasarnya aku tidak peduli. Prinsip moral dan agama bagiku adalah ranah privat yang jarang bergesekan satu sama lainnya--lakum dinukum waliyadin. Kita semua toh mungkin tidak memeluk Islam yang sama.
Namun aku akhirnya goyang juga, haha.
Orang yang kupilih menjadi bagian dari diriku, tidak berpikiran sama.
Aku tidak begitu ingin mengajak orang lain mengikutiku dengan buta. Namun bagaimana lagi, aku pun baru sadar aku begitu keras kepala. Aku menyampaikan argumenku tentang apa yang kuanggap paling baik, menyampaikan alasan panjang lebar dan pertimbanganku atas setiap darinya. Nahas, aku terlalu yakin, bahwa semua itu benar! Ya tentu saja, bukan? Kalau aku tidak yakin kalau itu benar, mana mungkin aku mengikutinya?
Tanpa sadar aku menyodorkan keyakinanku dengan begitu agresifnya. (Apakah aku agresif? Entahlah. Mungkin dia sudah lelah pula mendengarkannya. Lagipula ini pemikiran seumur hidup). Biasanya aku tidak peduli, namun kali ini berbeda. Ada seseorang yang kupilih. Aku ingin mengerti mengapa pilihan kami berbeda, dan apa yang ada di belakang keputusannya. Aku ingin percaya pada common sense-nya, pada judgement-nya. Aku ingin berdiskusi dan menemukan titik tengah, yang lebih baik dari yang sebelumnya kuputuskan.
Disini aku mulai bingung dengan batas individualitas. Apa yang mampu kutoleransi, dan apa yang tidak? Apa yang dapat kita berdua kompromikan, apa yang tidak?
Batas toleransiku pun ternyata begitu rendah. Aku bukan konservativist, namun sekali lagi, aku ingin percaya dan tunduk sepenuhnya pada kepercayaan yang telah kuputuskan.
Namun tidak baginya -- setiap orang memiliki jatah dosa masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna.
Mungkin itu benar. Aku terlalu idealis. Bukannya aku sendiri sempurna. Tapi mungkin aku perfeksionis. Selalu menganggap harus berusaha begitu keras mendekati kesempurnaan. Termasuk dalam hal agama. Kuanggap itu sebagai bukti keseriusanku. Meski dalam keadaan tak ideal pun.
Namun....ah, ya.
Sekali lagi, aku sedang bingung, kawan.
Semua logika ini, semua pertanyaan ini. Perlahan secara sadar tak sadar aku mulai mencoba merasionalisasi nilai moral orang lain. Aku mencoba menerima. Namun nahas, beberapa di antara mereka begitu bertentangan.
Di kasus ini, mungkin kami telah sepakat dalam batasan-batasan yang kami tetapkan.
Namun...
Begitu sulit bagiku untuk percaya, bahwa seseorang dapat mengikuti sesuatu yang tidak mereka setujui.
Takut. Lagi-lagi takut. Lagi -lagi susah percaya.
Salahkah aku? Sedang di masa lalu tak ada satu pun yang dapat kupercaya.
Mungkin manusia memang tempatnya salah.
Dan aku mengharapkan sesuatu yang terlalu sempurna.
Mungkin pula sebenarnya kami tidak seberbeda itu. Aku saja yang terlalu banyak berpikir jauh. Aku belum mampu memahaminya.
Apakah hal yang kuminta, terlalu berat?
Pantaskah aku memintanya?
Begitu berartinyakah diriku bagi seseorang untuk memahaminya, dan mengabulkannya?
Dulu aku tak pernah berharap.
Dan kini, aku takut.
Sembari menulis ini aku juga sadar. Ternyata aku ini idealis tingkat akut.
Maafkan.
Sebenarnya blog ini merekam dengan cukup baik perkembangan pikiran dan pergolakanku, sejak jaman alay sampe sekarang. Tentu saja, semua itu di luar ranah privat. Dengan membaca blog ini mungkin kamu nggak akan menemukan cerita dengan nama. Namun tetap ada esensinya.
Mungkin juga cuma aku yang paham sebenernya, tapi ya persetanlah!
Selain blog ini aku menuangkan pikiran ke begitu banyak tempat. Buku kecil dengan kalimat satu baris, gambar-gambar, percakapan-percakapan, dan tentu saja jurnalku. Rasanya ingin selalu meminta maaf, akhir-akhir ini, karena pikiran yang kelewat aktif, kelewat anarkis. Ketika hal-hal yang dibendung akhirnya dilepaskan, aku pun megap-megap dan hampir tenggelam.
Dan akhir-akhir ini aku mulai menelusuri keyakinanku. Aku tumbuh di lingkungan yang begitu kacau, dimana tak ada orang yang dapat kuandalkan, maupun nilai turunan yang dapat kupegang erat. Bagaimana bisa? Pandangan orang-orang selalu berseberangan, dan tak jarang aku melihat mereka yang hanya memegang prinsip umum di bibir saja. Di hidup ini pilihannya hanya satu, bukan : Buatlah prinsipmu sendiri.
Jadi, ya itu yang kulakukan.
Aku biasa mendengarkan dengan netral, lalu memikirkan dan menyambungkan segala sesuatunya, memastikan bahwa itu benar. Kalau tidak, aku akan melupakannya. Nurut sih nurut, tapi pelan namun pasti aku mengembangkan pribadi yang keras kepala. Semua hal yang ada di dalam diri ini adalah hal-hal yang kupegang erat-erat, janji-janji yang kubuat dengan diri sendiri. Termasuk masalah agama dan moralitas.
Sialnya dengan selalu membuka pikiran adalah, kadang kamu bingung, dengan mana yang benar. Aku ingin percaya dengan seluruhnya, aku ingin beriman sepenuhnya. Untuk apa kita percaya namun setengah-setengah saja? Dan aku hanya akan percaya pada hal yang telah kutimbang baik-baik, yang dapat kupastikan kebenarannya dalam taraf tertentu. Aku stuck, diantara liberal dan konservativist--terlalu longgar bagi hamba taat, terlalu banyak bertanya. Namun juga terlalu kaku bagi sebagian yang lainnya, sok menjadi baik dan mengkhianati hasrat diri.
Tidak semua orang berpikiran sama, dan pada dasarnya aku tidak peduli. Prinsip moral dan agama bagiku adalah ranah privat yang jarang bergesekan satu sama lainnya--lakum dinukum waliyadin. Kita semua toh mungkin tidak memeluk Islam yang sama.
Namun aku akhirnya goyang juga, haha.
Orang yang kupilih menjadi bagian dari diriku, tidak berpikiran sama.
Aku tidak begitu ingin mengajak orang lain mengikutiku dengan buta. Namun bagaimana lagi, aku pun baru sadar aku begitu keras kepala. Aku menyampaikan argumenku tentang apa yang kuanggap paling baik, menyampaikan alasan panjang lebar dan pertimbanganku atas setiap darinya. Nahas, aku terlalu yakin, bahwa semua itu benar! Ya tentu saja, bukan? Kalau aku tidak yakin kalau itu benar, mana mungkin aku mengikutinya?
Tanpa sadar aku menyodorkan keyakinanku dengan begitu agresifnya. (Apakah aku agresif? Entahlah. Mungkin dia sudah lelah pula mendengarkannya. Lagipula ini pemikiran seumur hidup). Biasanya aku tidak peduli, namun kali ini berbeda. Ada seseorang yang kupilih. Aku ingin mengerti mengapa pilihan kami berbeda, dan apa yang ada di belakang keputusannya. Aku ingin percaya pada common sense-nya, pada judgement-nya. Aku ingin berdiskusi dan menemukan titik tengah, yang lebih baik dari yang sebelumnya kuputuskan.
Disini aku mulai bingung dengan batas individualitas. Apa yang mampu kutoleransi, dan apa yang tidak? Apa yang dapat kita berdua kompromikan, apa yang tidak?
Batas toleransiku pun ternyata begitu rendah. Aku bukan konservativist, namun sekali lagi, aku ingin percaya dan tunduk sepenuhnya pada kepercayaan yang telah kuputuskan.
Namun tidak baginya -- setiap orang memiliki jatah dosa masing-masing. Tidak ada manusia yang sempurna.
Mungkin itu benar. Aku terlalu idealis. Bukannya aku sendiri sempurna. Tapi mungkin aku perfeksionis. Selalu menganggap harus berusaha begitu keras mendekati kesempurnaan. Termasuk dalam hal agama. Kuanggap itu sebagai bukti keseriusanku. Meski dalam keadaan tak ideal pun.
Namun....ah, ya.
Sekali lagi, aku sedang bingung, kawan.
Semua logika ini, semua pertanyaan ini. Perlahan secara sadar tak sadar aku mulai mencoba merasionalisasi nilai moral orang lain. Aku mencoba menerima. Namun nahas, beberapa di antara mereka begitu bertentangan.
Di kasus ini, mungkin kami telah sepakat dalam batasan-batasan yang kami tetapkan.
Namun...
Begitu sulit bagiku untuk percaya, bahwa seseorang dapat mengikuti sesuatu yang tidak mereka setujui.
Takut. Lagi-lagi takut. Lagi -lagi susah percaya.
Salahkah aku? Sedang di masa lalu tak ada satu pun yang dapat kupercaya.
Mungkin manusia memang tempatnya salah.
Dan aku mengharapkan sesuatu yang terlalu sempurna.
Mungkin pula sebenarnya kami tidak seberbeda itu. Aku saja yang terlalu banyak berpikir jauh. Aku belum mampu memahaminya.
Apakah hal yang kuminta, terlalu berat?
Pantaskah aku memintanya?
Begitu berartinyakah diriku bagi seseorang untuk memahaminya, dan mengabulkannya?
Dulu aku tak pernah berharap.
Dan kini, aku takut.
Sembari menulis ini aku juga sadar. Ternyata aku ini idealis tingkat akut.
Maafkan.
Kamis, 29 Agustus 2019
experiencing everything for the first time
there's a joy in wonders, a wonder in discoveries.
Is it human nature to take everything for granted? To accept something incredible as normal, I guess, is needed for our survival, where adaptability may mean life or death in prehistoric times. We should be able to build knowledge into our instincts, to work and move efficiently without minding too much about our surroundings.
Slowly the child in us matured. Perhaps our inner psyche deemed us enough to survive without having to continuously learn, that we can move on and keep being alive just fine.
But with it comes also the lack of joy.
There's this video I watched, of a story of a man who lost the ability to feel. A dull world of nothingness where everything feels, means, seems the same. To recover, he had to have everything redefined to him, rederscribed and reassociated. By doing this, the other person and himself is forced to pay attention to the tiniest bit of everything, rediscovering textures and colors and smell and warmth, the details of all the sounds, the combination of the damp air and vivid colors and wet earth. The way each and every of these simple, tiny things contribute to our way of percepting everything, the delicate and complex ways our feelings are formed.
Perhaps this video is parallel to the way we live right now. Rushing through things and ignoring our senses, the tiny bits of stories. Emptiness had consumed us all in this over-saturated world.
Need we time to re-learn everything, once at a time?
To be able to always feel everything as if it's new...
I always wondered how I did it before.
Maybe it's easier to always experience everything when you hold no prejudice, of preexisting knowledges, of expectations to yourself and everything around you. Like a child, and like an alien. Unconnected to this world, uncaring and unassuming.
Can we connect without taking away our wonders?
Let we try
Is it human nature to take everything for granted? To accept something incredible as normal, I guess, is needed for our survival, where adaptability may mean life or death in prehistoric times. We should be able to build knowledge into our instincts, to work and move efficiently without minding too much about our surroundings.
Slowly the child in us matured. Perhaps our inner psyche deemed us enough to survive without having to continuously learn, that we can move on and keep being alive just fine.
But with it comes also the lack of joy.
There's this video I watched, of a story of a man who lost the ability to feel. A dull world of nothingness where everything feels, means, seems the same. To recover, he had to have everything redefined to him, rederscribed and reassociated. By doing this, the other person and himself is forced to pay attention to the tiniest bit of everything, rediscovering textures and colors and smell and warmth, the details of all the sounds, the combination of the damp air and vivid colors and wet earth. The way each and every of these simple, tiny things contribute to our way of percepting everything, the delicate and complex ways our feelings are formed.
Perhaps this video is parallel to the way we live right now. Rushing through things and ignoring our senses, the tiny bits of stories. Emptiness had consumed us all in this over-saturated world.
Need we time to re-learn everything, once at a time?
To be able to always feel everything as if it's new...
Source : systemofadowney.tumblr.com
I always wondered how I did it before.
Maybe it's easier to always experience everything when you hold no prejudice, of preexisting knowledges, of expectations to yourself and everything around you. Like a child, and like an alien. Unconnected to this world, uncaring and unassuming.
Can we connect without taking away our wonders?
Let we try
Senin, 12 Agustus 2019
about life and choices
Do you remember when we talked about alternate realities?
If for every choice we could make, there exists a pararrel reality, where things are so much more different, and every reality may be shaped by the choice of countless different lives, did we end up by pure fate, pure accident, right here right now?
If it can be said, the true you exist in one of those realities, that you chose, did both of us choose this? Or am I an alternate me, living in your dream, and you are an alternate you, living in my dream?
Is this the best version of us that we could've been?
There's this story idea I once heard, of what if before we lived, we were given a library where each book tells a different tale, of a live we could have, and as we exist, we may choose one to live in? Well, it's kinda nonsense and unfun too to me because if I already read the whole book then I might as well try a different story for the live adaptation, if all I can watch is one movie. Except maybe if the book is so so good that I am so deeply entranced by it, that I become a fan, but yeah enough about that because apparently now we're steering offroad hahahah. It's a good concept, though.
The concept makes me wonder if Lauh Mahfuz is the same way. The way God knows everything that happens, but we still have free will, does it mean life is some sort of multiplayer visual novel with impossibly intricate story branches, all recorded in The Book?
Well anyway. Just another random ponderings.
If for every choice we could make, there exists a pararrel reality, where things are so much more different, and every reality may be shaped by the choice of countless different lives, did we end up by pure fate, pure accident, right here right now?
If it can be said, the true you exist in one of those realities, that you chose, did both of us choose this? Or am I an alternate me, living in your dream, and you are an alternate you, living in my dream?
Is this the best version of us that we could've been?
There's this story idea I once heard, of what if before we lived, we were given a library where each book tells a different tale, of a live we could have, and as we exist, we may choose one to live in? Well, it's kinda nonsense and unfun too to me because if I already read the whole book then I might as well try a different story for the live adaptation, if all I can watch is one movie. Except maybe if the book is so so good that I am so deeply entranced by it, that I become a fan, but yeah enough about that because apparently now we're steering offroad hahahah. It's a good concept, though.
The concept makes me wonder if Lauh Mahfuz is the same way. The way God knows everything that happens, but we still have free will, does it mean life is some sort of multiplayer visual novel with impossibly intricate story branches, all recorded in The Book?
Well anyway. Just another random ponderings.
Jumat, 19 Juli 2019
Bodily Experiences
Oh would you!
I'd go here and there if I could, I would.
I'd pull the trigger, you know I would
I'd jump to the skies, I would
What does this body account for anyway?
The weight made me fall
in a painful, silly way,
and would not
let me
go and split
into a million
shards, dust and
glitters, and empty air
So I giggle and sniffle
watch the tail of my favorite comet
wiggle and trickle
As andromeda spins
Everyone breathes
in huffs of sighs
The plant flairs
and farts oxygen into the air
the particle dancing
into nosey pharynxs
This world is a funny, funny show
Incredible and intricate somehow
so how I wish I could
just sit and watch,
sit and watch.
Quietly, quietly
Minding none of my business.
I'd go here and there if I could, I would.
I'd pull the trigger, you know I would
I'd jump to the skies, I would
What does this body account for anyway?
The weight made me fall
in a painful, silly way,
and would not
let me
go and split
into a million
shards, dust and
glitters, and empty air
So I giggle and sniffle
watch the tail of my favorite comet
wiggle and trickle
As andromeda spins
Everyone breathes
in huffs of sighs
The plant flairs
and farts oxygen into the air
the particle dancing
into nosey pharynxs
This world is a funny, funny show
Incredible and intricate somehow
so how I wish I could
just sit and watch,
sit and watch.
Quietly, quietly
Minding none of my business.
Rabu, 05 Juni 2019
Jatuh
Aku ingin jatuh sedalam dalamnya
Merasakan terbang meski hanya sedetik saja
Aku ingin hancur
Melebur
Menjadi debu
Tiada aku
Kupikir surga adalah tempat tanpa kata
Dimana aku tak lagi merasa
Tempatku dapat terburai
Hinggap bercengkrama
Hingga tak bersisa
Tanpa raga
Tanpa nyawa
Tanpa kata
Tanpa tanya
Merasakan terbang meski hanya sedetik saja
Aku ingin hancur
Melebur
Menjadi debu
Tiada aku
Kupikir surga adalah tempat tanpa kata
Dimana aku tak lagi merasa
Tempatku dapat terburai
Hinggap bercengkrama
Hingga tak bersisa
Tanpa raga
Tanpa nyawa
Tanpa kata
Tanpa tanya
Langganan:
Postingan (Atom)
